PANGKALPINANG– Dinas Kesehatan Provinsi Bangka Belitung (Dinkes Babel) menekankan urgensi validasi dan sinkronisasi data penyakit tidak menular (PTM) untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Hal ini disampaikan oleh Kepala Dinkes Babel, yang diwakili oleh Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Meiristia Qamariah, dalam Rapat Koordinasi dan Validasi Data Kasus PTM, yang diselenggarakan di Ruang Pertemuan Dinkes Babel dan secara virtual pada Senin (08/06/2026).

Menurut Meiristia, sinkronisasi data merupakan langkah krusial dalam menyusun kebijakan pengendalian PTM yang lebih tepat sasaran. 

"Valid, data yang akurat. Hal ini sangat mendukung di dalam penyusunan kebijakan pengendalian penyakit tidak menular yang kita harapkan lebih tepat sasaran, baik di kabupaten/kota maupun di provinsi," ujarnya.

Dalam pertemuan yang melibatkan berbagai pihak, termasuk dinas kesehatan kabupaten/kota, rumah sakit, dan sektor terkait lainnya, beliau menyampaikan bahwa perlunya penguatan upaya preventif dan promotif.

"PTM kini menjadi beban kesehatan yang signifikan. Oleh karena itu, upaya pencegahan dan promosi kesehatan harus diperkuat," tuturnya.

Diperlukan juga peran sinergi antarlembaga, lanjutnya. "Sinkronisasi data tidak bisa dilakukan secara parsial. Pelibatan dinkes kabupaten/kota, puskesmas, dan rumah sakit adalah kunci untuk mendapatkan gambaran kesehatan masyarakat yang komprehensif," katanya.

Selain itu, lanjutnya, rapat ini juga membahas rencana untuk menyelaraskan persepsi terkait mekanisme pelaporan. 

"Dengan adanya sistem pelaporan yang terintegrasi, setiap kasus PTM dapat terdata dengan baik tanpa adanya duplikasi. Satu orang dihitung satu kali dalam satu tahun," tegasnya.

Sementara Sekretaris Dinas, Lucia Shinta Silalahi menyampaikan dukungannya pentingnya integrasi data. "Sekretariat sebagai pengampu data dan informasi berupaya integrasi data yang serasi. Saat ini, masih terdapat perbedaan data antara dinkes kabupaten/kota dan rumah sakit," ujarnya.

"Sinkronisasi diperlukan agar data yang dihasilkan lebih valid dan akurat," tegasnya.
 
"Seringkali terdapat perbedaan data antara laporan Dinas Kesehatan dengan data yang tercatat di rumah sakit. Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk menyamakan persepsi dan memperkuat mekanisme pelaporan," lanjutnya.

"Goals kita adalah untuk penyamaan data, penyamaan validasi, melakukan validasi dan sinkronisasi data kasus PTM sampai dengan triwulan I di tahun 2026 ini bisa terlaksana dengan baik," pungkas Lucia.